Mesin Pengeram Ala MEGAPODA

Mesin pengeram telur sudah kita kenal. Ternyata, jauh sebelum manusia menemukan mesin pengeram telur unggas, Allah SWT. telah memberi ilham bagi seekor burung untuk membuat mesin pengeram sendiri. Burung yang diberi kemampuan oleh Allah SWT untuk membuat mesin pengeram sendiri itu adalah burung megapoda dari kepulauan Pasifik..

Selama musim panas, burung megapoda bertelur sebutir setiap enam hari. Telur megapoda relatif besar dibandingkan ukuran tubuhnya sendiri. Ini membuat megapoda betina hanya mampu mengerami satu butir telur. Akibatnya, setiap enam hari, telur yang baru menetas terancam mati karena kurang mendapatkan panas. Karena itulah, megapoda jantan membuat mesin pengeram telur menggunakan bahan alam : pasir dan tanah.

Untuk membuat mesin tersebut, enam bulan sebelum musim bertelur tiba, megapoda jantan mulai menggali lubang dengan kedalaman satu meter dan diameter lima meter menggunakan cakarnya yang amat besar. Lubang tersebut diisi dengan rumput liar dan daun basah. Tujuan utamanya adalah menghangatkan telur dengan menggunakan panas yang dihasilkan bakteri dalam proses pembusukan tanaman tersebut.

Ada persiapan lain yang dilakukan agar proses ini dapat berlangsung. Tumbuhan dapat membusuk dan melepaskan panasa karena bentuk corong dari lubang yang dibuat megapoda. Lubang tersebut membuat air hujan merembes masuk dan menjaga tumpukan dedaunan tetap basah. Kelembapan yang terjadi membuat proses pembusukan dapat berlangsung di bawah pasir, dan panas pun dilepaskan. Beberapa saat sebelum musim semi, megapoda jantan mulai membuka tumpukan tumbuhan busuk tersebut agar bersentuhan dengan udara bebas. Hal ini dilakukan untuk menjaga keseimbangan panas. Burung betina sekali – kali mengunjungi lubang dan memeriksa apakah burung jantan melakukan tugasnya atau tidak. Akhirnya, burung betina bertelur di pasir di atas dedaunan busuk itu.

Agar anak dalam “mesim pengeram” dapat berkembang baik, suhu harus konstan 33°C. Untuk mencapai hal ini, megapoda jantan secara teratur mengukur suhu pasir dengan paruhnya. Paruh ini sensitive dalam mengukur suhu layaknya termometer. Bila perlu, megapoda akan membuka lubang ventilasi untuk menurunkan suhu. Megapoda jantan bekerja dengan amat teliti. Bahkan bila ada beberapa genggam tanah jatuh menutupi lubang pengeram, megapoda segera menyingkirkannya dengan kaki dan mencegah perubahan suhu sekecil apa pun. Di bawah pengaturan ketat inilah telur-telur tersebut menetas. Anak yang baru beberapa jam menetas dari telur sudah tumbuh demikian baik sehingga dapat langsung terbang.

Tentu, keahlihan ini bukan karena megapoda mampu mengetahui proses pembusukan daun, kelembapan, dan hal lainnya yang berkaitan. Ini semua adalah ilmu dan kemampuan yang diberikan oleh Allah SWT kepada burung megapoda, (Majalah Elfata edisi 12 volume 07 tahun 2007)

Perihal Goegoem
the identification unknown........ identitas tidak diketahui.........

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: